Prestasi & Inovasi

Tiga Mahasiswa DKV Undika Sulap Limbah Kopi Menjadi Bio Leather Ramah Lingkungan

Biofee, Bio Leather dari Limbah Kopi untuk Dompet, Lanyard, dan Strap Jam Tangan

Berangkat dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman, tiga mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Dinamika Surabaya (Undika) yang tergabung dalam tim PBG Idea menghadirkan sebuah inovasi berbasis sustainable design bertajuk Biofee (Bio Leather Coffee). Inovasi ini mengolah limbah ampas kopi menjadi material bio leather yang dapat diaplikasikan ke berbagai produk fungsional, seperti dompet, lanyard, dan strap jam tangan.

Biofee dirancang sebagai alternatif material ramah lingkungan yang lahir dari realitas sehari-hari. Di tengah budaya minum kopi yang semakin berkembang, ampas kopi kerap dianggap sebagai limbah tanpa nilai guna.

Melalui pendekatan desain, PBG Idea yang terdiri dari Tegar Prasetiyo, Haekal Rahmami Loka Jaya, dan Mochammad Rizki Ramadhan mencoba membuktikan bahwa limbah tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai, baik secara fungsi maupun estetika.

3 Mahasiswa DKV Undika di balik Karya Biofee
Tiga Mahasiswa DKV Undika di balik Karya ‘Biofee’

Dari Board Game ke Sustainable Design

Menariknya, Biofee merupakan karya pertama PBG Idea yang mengusung konsep sustainable design. Sebelumnya, ketiga mahasiswa ini dikenal melalui berbagai karya kreatif seperti board game hingga puzzle 3D.

Beberapa artikel hasil karya mereka bisa di baca di sini:

Keputusan untuk beralih ke eksplorasi material ramah lingkungan menjadi tantangan tersendiri, mengingat mereka belum pernah mengambil mata kuliah sustainable design secara formal. Namun, hal itu tidak menghalangi mereka untuk mencoba hal baru.

Artikel Lainnya :  Bisnis Salad Vietnam Premium Karya Mahasiswi Undika Raup Omzet Belasan Juta

“Kami ingin mencoba sesuatu yang benar-benar baru. Selama ini fokusnya di board game, lalu kami terdorong untuk mengeksplor hal lain yang lebih menantang,” ungkap Tegar.

Ampas Kopi sebagai Material Alternatif

Pemilihan ampas kopi sebagai bahan utama Biofee bukan tanpa pertimbangan. Dari hasil riset yang sudah dilakukan oleh ketiga mahasiswa ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen dan konsumen kopi terbesar di dunia, dengan pertumbuhan coffee shop yang pesat, termasuk di Surabaya. Namun, pemanfaatan ampas kopi selama ini masih sangat terbatas dan umumnya hanya berakhir sebagai pupuk kompos.

Padahal, di luar negeri, berbagai material bio-leather berbahan alami seperti jamur, nanas, dan kaktus telah lebih dulu dikembangkan. “Berangkat dari kondisi tersebut, kami melihat peluang untuk menghadirkan bio leather berbasis kopi yang masih jarang dieksplorasi di Indonesia, sekaligus relevan dengan latar belakang keilmuan mereka di bidang desain,” tutur Haekal.

Artikel Lainnya :  Cookies Sehat dari Biji Pepaya Karya Mahasiswa Undika

Strap Jam Tangan dari Limbah Kopi Karya PBG Idea
Strap Jam Tangan dari Limbah ‘Biofee’ Kopi Karya PBG Idea Undika

Proses Home-Based Penuh Eksperimen

Biofee mulai dikembangkan sejak November 2025 dengan waktu persiapan yang relatif singkat. Seluruh proses produksi dilakukan secara home-based, menggunakan alat-alat sederhana yang dapat ditemukan di dapur dan dikerjakan di rumah. Ampas kopi dikeringkan, diolah menjadi lembaran bio leather, lalu dipotong dan disambung menggunakan teknik yang serupa dengan pembuatan produk kulit konvensional.

Dalam proses pengembangannya, tim PBG Idea melakukan trial and error dengan sekitar sepuluh jenis biji kopi, mulai dari arabika, robusta, Aceh Gayo, hingga Kintamani.

“Setelah melalui berbagai percobaan, kami memilih arabika dan robusta sebagai bahan yang kami pilih, karena memiliki daya tahan, tekstur, warna, serta aroma kopi yang masih terasa,” kata Kiki.

Sebagai material inovatif berbasis limbah organik, Biofee saat ini masih berada pada tahap eksplorasi awal. Karakter alaminya menuntut perhatian khusus pada aspek pengeringan dan penyimpanan agar kualitas material tetap terjaga, terutama di lingkungan yang lembap. Dalam tahap pengembangan saat ini, bio leather Biofee mampu mempertahankan karakter materialnya dalam rentang waktu sekitar tiga hingga empat minggu.

Kondisi tersebut justru menjadi pijakan penting bagi pengembangan Biofee ke tahap selanjutnya. Tim PBG Idea melihat kebutuhan akan kolaborasi lintas disiplin, seperti dengan bidang kimia dan biologi, sebagai langkah strategis untuk memperkuat stabilitas material serta membuka peluang produksi dalam skala yang lebih luas dan berkelanjutan.

Artikel Lainnya :  Beyond the Screen, Film Bermuatan Kritik Sosial Karya Mahasiswa PFTV Universitas Dinamika

Lanyard dari Limbah Kopi Karya PBG Idea
Lanyard dari Limbah Kopi ‘Biofee’ Karya PBG Idea Undika

Berbuah Gold Medal di Ajang Internasional Bergengsi

Inovasi Biofee tidak hanya berhenti pada tahap eksplorasi ide. Melalui proyek berjudul “Innovative Development of Bio-Leather from Coffee Grounds Waste Using Sustainable Design Principles”, tim PBG Idea berhasil meraih gold medal dalam ajang Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2025 yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 18–21 Desember 2025.

Prestasi ini semakin membanggakan karena Biofee berhasil mengungguli berbagai karya inovatif lainnya, termasuk dari peserta yang datang dari luar negeri. Penilaian juri menyoroti pendekatan Biofee yang aplikatif, relevan dengan isu lingkungan, serta memiliki potensi untuk dikembangkan secara komersial, sejalan dengan konsep lomba entrepreneurship yang diikuti.

Melalui Biofee, mahasiswa DKV Universitas Dinamika menunjukkan bahwa desain tidak hanya berperan sebagai medium visual, tetapi juga mampu menjadi solusi inovatif bagi permasalahan lingkungan.

Karya ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Dinamika sebagai kampus yang mendorong mahasiswa untuk terus berani bereksperimen, berinovasi, dan berprestasi hingga ke tingkat internasional.

3 Mahasiswa DKV Undika Raih Gold Medal di Ajang Internasional
3 Mahasiswa DKV Undika Raih Gold Medal di Ajang Internasional

Artikel Terbaru

Asisten AI Dinamika Online
×
🤖 Halo! Saya asisten AI Universitas Dinamika. Ada yang bisa saya bantu?